Nikmat adalah Amanah

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.

Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

"Nikmat adalah Amanah", begitulah yang dipesankan oleh Abah KH Yahya Al Mutamakkin saat eln sedang sowan kepada Beliau hari Selasa yang lalu. Seketika teringat nasihat Ustadzah Alina saat menghadiri majelis Aqiqoh mba Luky yang Beliau juga membahas perihal 'nikmat'. BTW, meskipun sepertinya kita sudah sering dengar tentang hal ini, eln juga pernah menuliskan di entri sebelumnya (bisa dibaca: (di sini), tapi rasa-rasanya, kita (terutama eln) masih sangat perlu diingatkan lagi dan lagi, karena kita sering lupa, lalai, bahkan nggak sadar, saking seringnya nikmat itu ada pada diri kita. Langsung aja, kurang lebih Ustadzah Alina Al Munawwar menyampaikan seperti ini:

Pertama, Ustadzah memberikan perumpamaan alias contoh kasus:
Misal nih, ada seseorang yang diberikan mata yang rabun, maka sebenarnya mudah saja, ia hanya tinggal pergi ke dokter, periksa, atau mungkin dia cuma perlu pergi ke optik, di cek, ternyata misal didapati matanya minus, ia hanya tinggal beli kacamata, lalu dipakai, dan penglihatannya akan jauh lebih baik. Sebenarnya simpel, tetapi orang yang sedang diuji oleh Allah Swt. ini, bisa jadi dia nggak tau, atau nggak punya uang untuk pergi ke dokter dan lain sebagainya.

Lalu, ada satu hamba Allah yang sayang dan merasa kasian dengan orang yang ada masalah dengan matanya (sebut saja Mawar ya, biar gampang dipahami). Ia melihat ada peluang pahala di situ, ia melihat bahwa di sini ia bisa mendapatkan kebaikan ('ladang'nya untuk berbuat kebaikan). Akhirnya, ia membantu, mengantarkan Mawar ke dokter, membelikan kacamata, dan sampai bisa dipakai. Ia menyangka, kalau kacamata tersebut dipakai oleh Mawar, jika matanya Mawar bisa dipakai lagi, digunakan untuk baca Qur’an, dan setiap bacaan Qur’an, ia bisa dapat investasi jariyahnya selama kacamata itu digunakan. Namun, subhanallah, tiba-tiba, saat ketemu lagi, si Mawar nggak pakai kacamatanya, ternyata kacamata itu dipakai untuk mengganjal pintu rumahnya.

Kira-kira gimana perasaan si pemberi? Dengan dia memberi dengan penuh harapan, karena ia menjadikan itu sebagai peluang pahala, dengan kacamata, semoga bisa membantu Mawar agar bisa membaca Al Qur’an, membantu dia sholat ke masjid, dll. Namun begitu dilihat, kok apa yang dia berikan tadi tidak digunakan sebagaimana mestinya. Apalagi kalau sampai wal’iyadzubillah mata yang tadi bisa lebih baik dengan bantuan kacamata digunakan untuk melihat maksiat, misal untuk ngintipin orang, melihat hal-hal yang dilarang oleh Allah, pada akhirnya ada rasa gelo di hati pemberi, “ya Allah, coba saya nggak kasih itu kacamata, karena ternyata akhirnya saya jadi berserikat untuk keburukan”

Beginilah sebenarnya, ketika Allah menitipkan kenikmatan kepada kita, Allah itu punya tujuan. Allah titipkan anggota badan kita yang sempurna, ini semuanya amanah.

Maka syukurnya kita atas nikmat dan anugrah yang Allah titipkan kepada kita bukan cuma sekadar ‘terima kasih’ seperti yang dilakukan Mawar ketika diberi kacamata, tetapi ada sebuah ‘jangka panjang’ yang diharapkan.

Oke lah, kalau kacamata mungkin ada masanya, ketika ia pecah, sudah tidak bisa digunakan lagi. Mungkin kacamata itu sebuah barang, tapi ada orang yang selama sekian puluh tahun kacamatanya nggak ganti-ganti, karena ia pandai menjaga, ia rawat, ia letakkan di tempat yang benar, digunakan sebagaimana mestinya. Jadi, insyaAllah barang apapun jika kita jaga dengan baik dan kita gunakan sebagaimana mestinya, pasti juga akan awet.

Allah mengaruniakan kenikmatan-kenikmatan tadi, tujuannya adalah يُعِيْنْ عَلَى طَاعَةِ الله (untuk membantu kita di dalam menunaikan ketaatan-ketaatan kita kepada Allah, bukan untuk memaksiati Allah).

Bagaimana coba perasaannya? Kita aja sebagai manusia kalau ada di posisi si pemberi pasti kesal, marah, dan Allah Swt. juga kuasa atas hal tersebut, tapi bedanya, Allah Maha Rahman, Allah Maha Rahim, Allah Maha Kasih, Kasihnya Allah, Rahmatnya Allah Swt. itu nggak ada batasnya, bahkan sampai Allah menjadikan/memberi waktu tunggu yang panjang bagi seorang hamba itu untuk taubat kepada Allah مَا لَمْ يُغَرْغِرْ sebelum nyawa sampai ke kerongkongan.

«إن الله عز وجل يقبل تَوْبَةَ العَبْدِ ما لم يُغَرْغِرْ»

Inilah kasihsayangnya Allah Swt., begitu pula nikmat yang Allah berikan kepada kita, nikmat mata sudah semestinya kita gunakan sebagaimana mestinya (hanya untuk kebaikan), lisan, telinga, anggota tubuh kita, tangan kita pun begitu, maka jangan sampai kita lakukan hal-hal yang kemudian menjadikan Allah Swt. ‘melihat’nya dengan tidak semestinya, karena kita tidak menggunakan nikmat Allah tadi sebagaimana mestinya.

Kita punya handphone misalnya, kalau kita cas berhari-hari, atau baru berkurang sedikit lalu kita cas, lama-lama akan rusak, nikmat Allah pun seperti itu jika kita tidak pandai mensyukurinya.

Mensyukurinya = menjaga dan menunaikannya.
Karena khususnya anugrah Allah itu bentuknya anugerah sekaligus amanah.
  • Anugrah (pemberian, nikmat), berarti kita harus mensyukurinya.
  • Dan kalau ia berupa amanah, berarti kita harus menunaikan dan mempertanggungjawabkan apa yang telah Allah amanahkan kepada kita.

Menunaikan amanah ini prosesnya panjang, maka dari awal kita harus tau, karena ini adalah tanggungjawab yang akan dimintai oleh Allah secara detail. Pertanggungjawaban kita kalau kerja saja akan dimintai laporan/rekap setiap bulan, kalau selisih sedikit aja akan dipertanyakan. Apakah menurut kita perhitungan manusia lebih detail dari perhitungan Allah? Tidak, wallah. Kalau kita pernah ketemu dengan orang yang nritik/ detail/ njlimet, nah Allah lebih njlimet dari itu, karena tidak ada yang terlewat dari Allah Swt. satupun, thorfata ‘ain, satu kedipan mata pun tidak ada yang terlewat dari Allah, tidak terlepas dari catatan Allah.
_____________________________________________________________
Maka, bismillah yuk, ketika seseorang dianugrahi nikmat oleh Allah, sudah semestinya kita bersyukur kepada Allah Swt. Syukurnya adalah dengan menjadikan nikmat yang Allah berikan لِمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ (sebagaimana mestinya tujuan nikmat itu diberikan), belajar mensyukuri nikmat Allah ini dengan menggunakannya sebagaimana yang Allah mau..

يا الله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق
في خير و لطف و عافية
Allahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan