Hakikat Bersyukur yang Sesungguhnya

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

Bersyukur itu adalah menggunakan seluruh pemberian Allah di jalan yang Allah ridhoi.
Kita punya mata, kita gunain buat baca Qur'an; kita punya mulut, kita gunain buat dzikir; kita punya tangan, buat ngasih sedekah ke orang lain; kita punya kaki, buat jalan ke tempat-tempat yang Allah sukai, dll.

Ketika kita ngomong "Ya Allah, sesungguhnya hamba telah bersyukur ya Rabb", tapi ternyata, kita masih sering menggunakan mata kita buat ngelihat sesuatu yang Allah haramin; kita punya mulut, masih sering kita gunain buat nyakitin hati orang lain; kita punya tangan, masih sering kita gunain buat ngambil hak orang lain, dll. Itu nggak bisa disebut sebagai bersyukur.
Jadi, intinya ituu, ngga bisa dikatakan bersyukur seseorang yang dalam hidupnya masih ngelakuin hal-hal yang haram-haram tadi.

Sekarang pertanyaannya, kita dikasih hati dan pikiran sama Allah, kira-kira hati dan pikiran itu buat apa??
Ya buat mikirin dan buat mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan malah kita gunain buat mikirin hal-hal lain, kayak semisal lawan jenis, yang bisa mengumbar syahwat, dll.
 
Terus, banyak di antara kita yang dikasih wajah yang tampan/ cantik semisal, tapi dengan kerupawanannya itu mereka gunain buat maksiat, kayak pacaran, dll. Masa kita nggak malu? Allah 'kan udah ngasih tau kita, "Barangsiapa yg bersyukur, maka akan Aku tambah nikmatKu kepadanya, dan barangsiapa yang kufur akan nikmatKu, maka AzabKu sangat pedih."

Kalo misalnya kita gunain mata kita buat ngeliat yang haram, terus tiba-tiba mata kita diambil sama Allah, gimana?
Kalo misalnya kita dikasih wajah yang rupawan, tapi malah kita gunain kerupawanan kita itu untuk maksiat, dan tiba-tiba Allah ambil kerupawanan kita, gimana? 'Kan yang rugi kita sendiri,

InshaAllah, semoga Allah selalu ngejaga kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur, aamiin.
.
Allahu a'lam. Diskusi bersama sahabat kami, Akhmad Hamzah Al Munawwar.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan