Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

TaqabbalAllahu minna wa minkum, taqabbal yaa Kariim.. 
Masih dalam Idul Fitri vibe nih. Hehe.. Bagi siapapun yang pernah mengenal eln, mohon ridho dan maafnya atas semua kesalahan dan khilaf eln ya.. Semoga Allah menerima amal kita semua, me-langgeng-kan setiap amal baik atas kita dan menghapuskan sifat keburukan di dalam diri kita. Juga semoga, setiap harinya kita selalu bertambah kedekatan pada Allah dan RasulNya, Aamiin..

Idul Fitri selalu identik dengan istilah 'mudik', yaitu kunjungan/ perjalanan/ safar kita ke rumah sanak saudara alias silaturahmi. Cerita sedikit yaa, sebenernya tahun 2022 ini, mamah dan eln udah mudik duluan, mudiknya pas bulan Ramadhan. Pertimbangan kita mudiknya sebelum lebaran, karena saat itu ada isu 'cegatan' vksn booster, khawatirnya orang yang belum dapet booster nggak boleh mudik wkwkwk. Tapi alhamdulillah kemarin H+1 lebaran, kami mudik lagi ke rumah mbah di Klaten. Btw, berarti bulan ini kita udah 3 kali ke Klaten, wkwkkw. Nggakpapalah, sesekali agak sering bolak-balik Klaten buat bantu dan nemenin mbah..

Pulang dari mudik yang ketiga (di waktu lebaran), eln jadi nostalgia dengan mudik di tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah banget, Allah tu selalu kasih momen indah dan manis untuk dikenang. Inget banget, dulu pernah 'menangi' (ikut mengalami) mudik naik bus, pastinya saat kedua kakak dan eln masih kecil. Duduk berdesakan dengan penumpang lain, harus ganti bus sampai 3 kali, panas, capek, dan lain-lain. Oh iya, dulu kebiasaan kita minta dibeliin bakpia kecil-kecil yang dijajakan sama penjual keliling dari satu bus ke bus yang lain. Banyak banget penjual yang keliling dan menawarkan barang dagangannya ke penumpang, beberapa diantaranya, penjual cangcimen (kacang, kuaci, permen), kacang kedelai, tahu sumedang, permen jahe, susu kedelai (ini paling favorit sih tentunya, wkwk), penjual buku dan seperangkat alat tulis seperti pensil, penghapus, penggaris yang dibungkus di dalam satu plastik, penjual buku pintar, buku keajaiban dunia, buku atlas, buku grammar bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Selain itu suasana nge-bis juga semakin terasa karena banyaknya pengamen berlalu lalang dan ikut meramaikan bus dengan suara mereka dan gitar kecilnya. 

Tahun-tahun berikutnya, kedua mas (Btw, sebutan 'mas' di dalam bahasa Jawa adalah panggilan untuk kakak laki-laki atau orang laki-laki yang lebih tua) sudah lebih besar dan bisa mengendarai sepeda motor, sudah punya SIM (Surat Izin Mengemudi) juga tentunya. Kami memutuskan untuk mudik memakai motor. Papah boncengan dengan mamah dan eln, mas pertama dengan mas kedua. Eln masih inget banget, perjalanan naik motor dari Semarang ke Klaten cukup berat kita lalui. Saking penuhnya jalan, kita sebagai pemudik yang bawa motor sampai harus lewat jalan pinggir yang berpasir dan berbatu. Tak jarang kita hampir 'terpleset' atau menabrak pengemudi motor lainnya di sana. Kita punya 'adat/ kebiasaan, mudiknya selalu di hari H lebaran, sekitar jam siang setelah dzuhur. Di waktu yang seperti itu, tentunya ramai orang di jalanan. Suasana mudik di zaman dulu, banyak pak polisi yang mengarahkan para pengendara untuk lewat ke jalan alternatif agar tidak terkena macet. Vibe lebaran juga sangat terasaaa karena kita harus berdesakan dengan pengguna jalan yang ingin mudik juga. Tak jarang tercium aroma kampas rem kendaraan orang-orang yang hangus saking seringnya mengerem karena padatnya jalanan. Periode mudik dengan motor adalah periode yang paling lama sih, sejak mas sudah punya SIM (sekitar 2006) sampai mas kedua punya mobil (lupa tahun berapa, sepertinya sekitar tahun 2017). Saat mas dan eln beranjak dewasa, kami sekeluarga mudik dengan tiga motor, papah dengan eln, mas kedua dengan mamah, dan mas pertama bawa tas besar untuk pakaian. Kami berangkat bersama-sama, tapi pasti akan terpisah selama perjalanan, maka kami selalu membuat janji untuk berhenti di tempat kami beristirahat saat mudik setiap tahun, lokasinya ada di Boyolali. Pengalaman paling menantang, pernah mudik boncengan sama mas, di kondisi jalan sangat padat, dan mas 'menyalip' di antara dua truk, eln ngerasa deg-degan banget, takut kalau motornya nggak muat karena saking mepetnya.. Pernah pegel juga, mudik naik motor mas yang tinggi dan kita sebagai penumpang harus menunduk agar bisa pegangan kwkwkwkwk.. :(

Setelah mas punya mobil, kami sempat mudik dengan naik mobil mas. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yang namanya mudik pasti penuh dan jalanan ramai, apalagi naiknya mobil, nggak akan leluasa kalau ingin menyalip kendaraan lain. Saat itu yang mudik dengan mobil cuma papah, mamah, mas kedua, dan eln. Mas pertama naik motor sendiri. Saking antri lumayan panjang, kita inisiatif membuka gmaps untuk mencari jalan alternatif. Kita ikutlah dengan jalur yang diarahkan si gmaps. Mobil melaju dengan lancar tanpa hambatan dan mengarah serta melewati sebuah perkampungan kecil. Setelah beberapa saat, kami berempat dikagetkan dengan kondisi jalanan di depan. Rupanya mobil kita sampai pada sebuah jembatan kecil dan sempit, jalan yang kecil juga membuat kami kesulitan untuk berbalik arah. Nggak hanya itu, jarak kami sudah sangat jauh dari jalan utama, mau nggak mau kami harus tetap lewat jembatan itu. Oke, masalah jembatan sudah clear, tapi ternyata di depan jembatan ada jalan menanjak cukup tinggi. Mas sudah mencoba untuk naik, tapi mobil kami saat itu adalah mobil jenis matic dan nggak kuat dipakai untuk menanjak. wkwkk.. Akhirotu, papah, mamah, dan eln turun sambil mendorong mobil, membantu mas yang juga ngegas mobilnya supaya kuat nanjak. Alhamdulillah.. Seru sih kalau diingat-ingat.

Di tahun 2022 ini, eln mudik hanya berdua dengan mamah naik motor. Bedanya, eln merasa jalanan nggak sepadat tahun-tahun sebelumnya. Kami nggak sampai perlu untuk menyalip kendaraan lain di jalan berbatu dan berpasir, alhamdulillah jalanan longgar, meski agak penuh kendaraan di beberapa tempat, tapi semua cukup lancar. Kami juga nggak perlu cari jalan alternatif agar lebih cepat sampai tempat tujuan. Eln juga bingung kenapa jalanan lebih longgar dari tahun sebelumnya, bisa jadi, karena sekarang sudah banyak pemudik yang memilih untuk menggunakan mobil daripada motor, juga sudah ada fasilitas jalan tol yang bisa membuat jarak kita ke tempat tujuan mudik jadi lebih cepat. Kemarin mas juga mudik ke Klaten via tol hanya butuh waktu 1,5 jam.. Jadi, eln pikir sudah serba cepat dan mudah semuanya.. Alhamdulillah.. Biasanya kami mudik hanya satu malam saja karena ada tanggungan peliharaan: kucing dan per-hewan-an lain di rumah, tapi sekarang tinggal ikan, jadi kami bisa mudik lebih lama dan santai.. :D

Terakhir, ada sebuah ungkapan yang berbunyi kurang lebih seperti ini: "setiap kita datang ke rumah orang tua, kita hanya membawa oleh-oleh sedikit, tapi saat pulang malah dibawain oleh-oleh banyak sama orang tua kita". Nah, ini betul banget sih. Momen pulang lebaran dengan motor, kita hampir selalu dibawain bermacam makanan, entah yang dimasukkan di kardus lalu diikat di bagian belakang motor (kita ikat pakai karet ban, karena kalau diikat pakai tali rafia sepertinya nggak kuat, wkwk), dibawa pakai karung, ataupun plastik kresek besar. Pernah kehujanan di jalan juga sampai-sampai kardus oleh-oleh dari mbah hancur. x'D

Ceritanya sudah terlalu panjang sepertinya yaa.. Terima kasih kalau ada yang berkenan membaca cerita random dan nggak penting ini.. hihihi..
Salam, selamat berlebaran semuanya. Eid mubarak 'alaina wa 'alaikum :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Berniat di Bulan Ramadhan