Renungan bagi yang Hatinya Terjangkit Hubbuddunya

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

Entri kali ini, eln ingin share renungan, nasihat dari KH Yahya Al Mutamakkin yang disampaikan pada hari Selasa, 9 Juli 2024. Ada beberapa kata penambahan dari eln yang ditulis di dalam tanda kurung "(..)" tidak lain hanya sebagai penjelas supaya lebih nyambung jika dibaca melalui tulisan. Ini nasihat untuk kita semua, khususnya untuk eln sendiri. Semoga bermanfaat. Kurang lebih pembahasan yang eln dengarkan dan tulis ulang dari rekaman live streamingnya seperti ini,
_______________
Di dalam Kitab Masturul ifadah bimaa yu'in 'alal hudhur fil 'ibadah (مسطور الإفادة بما يعين على الحضور في العباد ة) karya Al Imam Jamaluddin Muhammad bin Husein bin Ibrahim al Aslafi radhiyallahu'anhu. (محمد بن الحسين بن إبراهيم الاسلافي)

Apabila orang ingin terbebas dari suatu masalah, maka ia harus berani memutus sumber masalah tadi. Kalau ia tidak berani memutus sumber masalah, maka permasalahan itu (jika) diselesaikan sebentar, (akan) timbul lagi, timbul lagi.

Imam Ghozali mencontohkan, ada orang yang kepengin tidur tenang, atau duduk tenang di bawah pohon, lalu ia terganggu dengan burung-burung yang berkicauan dan bermain-main di bawah pohon itu, sehingga ia tidak mampu merasakan ketenangan. Lalu ia sibuk mengusir burung itu dengan kayu, burung tadi terbang, datang lagi, lalu terbang, datang lagi. Akhirnya ia capek mengusir burung tadi, dan dia yang kalah. Solusi yang terbaik, potong pohonnya, selesai.

Hakadza insan, manusia kepengin fokus ngaji, nggak bisa, datang lagi masalah, datang lagi yang bikin ilmunya terganggu. Orang mau fokus ngapalin Qur'an, nggak bisa, orang mau fokus khusyuk sholat, nggak bisa. Diusir penyakit-penyakit bathin, datang lagi. Karena ada sebab satu yang tidak diselesaikan, yaitu adanya di hati cinta dunia. Inilah pohon yang paling berbahaya. Mahabbatud dunya wa ta'dzimud dunya, membesar-besarkan dunia, menomorsatukan dunia, menganggap dunia lebih penting daripada akhirat. Ini yang menjadikan sebab ibadah tidak bisa khusyuk, ngaji nggak bisa fokus, mau jadi ahli Qur'an pun nggak bisa istiqomah. Karena hatinya sudah cinta dunia.

Sampai kapanpun kalau orang hatinya cinta dunia, mau belajar 1000 kitab, nggak akan bisa khusyuk dia, sampai kapanpun dia kalau hatinya cinta dunia, mau ngaji sama 1000 kyai, nggak ada gunanya. Hatinya sudah terpenuhi dengan 'mabuk' dunia ini. Yang di pikirannya, yang di hatinya dunia, fulus. Nggak bisa khusyuk, maka dia sholat, takbir, dan mikir dunia, (akhirnya) lupa rakaat, hatta fatihah, lupa dia, rukun (aja) dia lupa, apalagi sunnah. Ini sebab karena hati kotor dengan kotoran-kotoran tadi, memikirkan dunia, al hamm biddunya.

Dan maksud dari "dunia" yakni segala sesuatu yang menjauhkan dari Allah, melupakan dari Allah, itulah dunia. Adapun sesuatu yang dibutuhkan untuk mendekatkan kepada Allah yaitu seperlunya, sebutuhnya,

Orang yang merasa hatinya telah terjangkit penyakit dunia ini, harus segera masuk 'ruang operasi' sebelum penyakitnya menyebar ke seluruh tubuh. Karena dia kalau sudah menyebar ke seluruh tubuh (akan) menjadi kronis, (jika sampai) di stadium tinggi, maka dia akan meracuni segalanya. Akhirnya, ia ngaji (akan ter)rasa pahit, mondok nggak kerasan, dengar nasihat muntah-muntah dia, ini sudah kronis, tertutup hatinya, wal'iyadzubillah.
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Maka hati-hati dari hati yang cinta dunia, jangan kamu cinta dunia, untuk apa dicinta? Orang yang meraih dunia, (kalau) mati nggak bawa satu rupiah pun.

Siapa manusia paling kaya? Aghnannas, Qorun.
لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ
(QS. al Qashas 28:76)
Yakni Qorun saking kayanya dia, diceritakan di dalam tafsir, kunci kamarnya, kunci istananya saking banyaknya kamar, dipikul 40 orang nggak kuat.
Orang yang hatinya jelek melihat seperti kekayaan Qorun, ia kepengin.
يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ
"Seandainya kita seperti Qorun, kaya.." (QS. al Qashas 28:79)

Seperti kita sekarang, melihat di medsos ada orang mamerin mobil Lamborghini, kepengin kita itu. Ada orang pamer Alphard, pengin, padahal ia cuman gaya doang, ada mobil bagus, dia foto, dikirim ke ente. Seperti zaman dulu, zaman Qorun, orang yang hatinya kotor, yang seneng dunia, kalo melihat Qorun dia kepengin seperti Qorun. Sekarang kita begitu, lihat orang punya dunia, punya mobil mewah, rumah yang megah, "wah, andaikata kita punya seperti itu", karena hati kita masih kepengin, hati kita masih ta'alluq kepada dunia itu, karena hati kita masih menganggap bahwa itu kesuksesan. Tapi kalau orang itu cerdas, nggak kepengin.

Nabi Muhammad Saw. kalau melihat kemewahan dunia itu, baca doa;
اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ
Ya Allah, dunia itu sementara, yang hakiki itu nikmat di surga...

Orang-orang yang beriman, ketika melihat Qorun nggak kepengin.
وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا (QS. al Qashas 28:80)

Orang yang beriman di zaman Qorun ini ngomong, "ckk.. dunia, seperti tai kucing". Karena mereka tau hakikat dunia, lebih bagus kita cari surganya Allah, lebih bagus kita cari kenikmatan yang kekal, yang abadi.

Orang dikasih dunia, nggak harus Islam, orang kafir banyak. Karena kekayaan dan dunia itu bukan sesuatu ukuran kemuliaan. Maka salah kalau kita ngukur diri kita, mulia/ nggak mulia itu dengan duit, ukuran materi. Goblok banget kita itu. Allah nggak menjadikan duit ukuran kemuliaan. Seandainya dunia dan duit itu ukuran kemuliaan, orang kafir nggak dikasih duit sama Allah. Orang kafir dapat duit dari mana? Dari siapa? Dari Allah. Orang syirik, ahli maksiat dapat duit dari mana? Dari Allah. Artinya, andaikata dunia itu sesuatu yang berharga, Allah nggak akan ngasih dunia kepada mereka. Tapi karena ini nggak berharga, (makanya) Allah kasih.

Seperti kamu kalau punya barang yang nggak berharga, kamu kasih sama orang.
Sandal rusak, "pek pek pek.." (Bahasa Jawa, kurang lebih artinya: bawa, bawa, ambil aja)
Sarung rusak, "ambil deh, ambil"
Kamu nggak akan menghalangi siapapun untuk mengambil.
Karena dunia itu tidaklah berharga di sisi Allah, maka Allah tidak menolak orang kafir memiliki dunia. Tapi kalau yang namanya hidayah, yang namanya iman, yang namanya khusyuk ibadah, seneng kepada al Qur'an, seneng pada kebaikan, seneng sholat, ini nikmat mahal, nikmat spesial, karena itu tidak diberikan kepada sembarang orang. Yang dapat nikmat ini orang-orang spesial di sisi Allah. Yang dipilih oleh Allah. Cuman, kita ini yang nggak paham kalau kita ini dipilih oleh Allah, dispesialkan oleh Allah. Kita kurang merasakan itu, kita malah kepengin seperti mereka yang dihinakan dengan dunia, padahal kita sudah dimuliakan dengan ilmu, dengan iman, dengan Islam, dengan ibadah kita kepada Allah.

Sayyidina Umar berkata, (او كما قال)
نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فلا نطلب العزة لغير الله 
"Kita ini adalah satu qoum yang dimuliakan oleh Allah dengan agama Islam, maka kita nggak mau rendah mencari kemuliaan kepada selain Allah. "

Jangan merasa mulia hanya dengan hp mu yang bagus, baru punya hp harganya berapa aja udah merasa keren, merasa mulia. Berarti harga dirimu hanya seharga itu, kesian banget ente. Kalau ente melihat orang kafir punya hp lebih bagus daripada punya ente, (terus ente menganggap) "wah, berarti ana kurang terhormat dibanding orang kafir?" Ya ente salah, ente memuliakan dirimu dengan nilai hpmu, orang kafir hpnya lebih bagus daripada hp ente. Maka ente merasa mulia dengan imanmu dengan Islam mu, maka engkau tidak bisa disamakan dengan orang-orang kafir. Berapapun dunia mereka miliki, mereka nggak dapat Islam, mereka dalam kekufuran, kalau mati masuk neraka itu sudah jelas. Kalian telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka muliakan dirimu dengan Islam.

Walihadza, shohabat-shohabat Nabi saw., menjadi orang-orang yang sukses, menjadi pemimpin dunia, karena oleh Nabi, oleh Allah sudah ditarbiyah 13 tahun di Mekkah hanya dengan bagaimana hatinya tidak cinta dunia. Ayat-ayat Makiyyah semuanya bermakna kepada bagaimana hati para sahabat nggak cinta dunia, hatinya sahabat hanya mencari akhirat, hanya cari surga. Karena itulah mereka menganggap bahwa mati di jalan Allah itu adalah kebanggaan, karena dunia sudah nggak ada nilai. Sahabat-sahabat Nabi yang kecil-kecil, sayyidina 'Ali waktu Nabi hijrah, "wahai 'Ali, kamu tidur di tempat tidurku, nanti kamu selimutan, saya mau keluar untuk hijrah", keliatannya sepele, tapi risikonya tinggi, kehilangan nyawa, kok berani sayyidina 'Ali? Ya karena sayyidina 'Ali hatinya sudah begitu, dunia nggak ada nilai, yang penting kan surga. Waktu itu sayyidina 'Ali umur 16 tahun, udah siap mati untuk Allah. Coba ente... "Belum zuaj ya akhii" 😅
Dari mulai fase di Mekkah, yaitu dikikis dari hati mereka dari cinta dunia, diberi oleh Allah ujian-ujian yang berat, sampai hati mereka tidak cinta dunia sama sekali. Maka muncullah orang-orang yang siap mati setiap saat untuk Allah dan RasulNya. Karena keberanian untuk mati di jalan Allah itu tergantung bagaimana terkikisnya cinta dunia di dalam hati kita. Rasulullah mengkaitkan,
((Di akhir zaman nanti kalian akan tertimpa penyakit 'wahn'))
"Apa itu wahn ya Rasulullah?"
((Hubbuddunya wa karohatul maut))
(Sampai) disinonimkan oleh Nabi; cinta dunia, nggak suka mati.
Semakin orang terlepas dari belenggu cinta dunia, ia semakin siap untuk mati, bertemu surga. Semakin ia dibelenggu dengan cinta dunia, semakin dia takut kematian.

Sahabat-sahabat Nabi di Makkah, ayat-ayat Makiyyah itu kebanyakan ayat-ayat tentang bagaimana menzuhudkan sahabat dari dunia. Coba kamu renungkan itu ayat-ayat Makiyyah, surat-surat Makiyyah, mereka mengandung kisah-kisah kaum-kaum terdahulu, tentang bagaimana celakanya bangsa-bangsa terdahulu, bagaimana endingnya orang yang kafir kepada Allah, kemudian diselipin tentang bagaimana dunia yang hina, yang fana, dan akhirat yang kekal dan membahagiakan selamanya. Di Makkah, diperkuat dulu pondasinya tadi, hatinya nggak boleh cinta dunia. Karena ini penyakit yang paling berbahaya.

Begitupun santri, ia cari ilmu tapi hatinya cinta dunia, nggak bisa. Hatta dapat ilmu, nanti dipakai untuk hal yang nggak baik, karena hatinya cinta dunia, tujuannya dunia, dapat ilmu, dicari untuk ngakali, untuk menipu, memperalat ilmu agama untuk dunia yang sudah dia cintai. Wal'iyadzubillah.

Kata sayyidina Hasan al Bashri, (او كما قال)
نَبْكِيْ عَلَى طَلَبَةِ الْعِلْم يَطْلُبُوْنَ عُلُوْمَ الْآخِرَةْ فَيَطْلُبُ بِهَا الدُّنْيَا
"Yang kami tangisi adalah mereka santri-santri yang dulu mengaji kepada kita, ngaji ilmu akhirat, tapi digunakan untuk mencari dunia."
Ditangisin ini oleh imam Hasan al Bashri.

(Maka) kuatkan taqwanya kepada Allah, bertaubat kepada Allah. Jangan sampai ada niat menggunakan ilmu agama untuk mencari dunia. Allah mentasybihkan mereka seperti keledai.
مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ
<Perumpamaan orang punya ilmu, tapi nggak mengamalkan ilmu, nggak menjaga amanah ilmu, seperti keledai> (QS. al Jumu'ah 62:5)

Anta walaupun dipanggil ulama, kyai, syeikh, haji, buya, apapun di depan masyarakat, ente di sisi Allah keledai, na'udzubillahi min dzalik. Walaupun mereka meng-elu-elukan dirimu, walaupun mereka memuji-mujimu, anta 'indallah himar, di sisi Allah, anta keledai karena menggunakan ilmu untuk dunia, untuk mencari dunia. Kenapa begitu? Karena dari awalnya sudah cinta dunia. Lebih dahsyat lagi, Allah mentamsilkan mereka seperti anjing. Himar/ keledai itu masih kelas junior, yang senior itu seperti kalb/ anjing (QS. al A'rof 7:176)
وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ
(ayat Bal'am, ulama bani Isroil yang mati su'ul khotimah)
Kalau dia tau, ia menggunakan ayat-ayat Allah untuk menipu, untuk berbuat maksiat, itu di sisi Allah seperti anjing.

Makanya santri-santri belajar ilmu sambil niatnya diperbaiki, mencari ilmu. al Habib Zain menganjurkan santri setiap hari membaca niat mencari ilmu (niatnya Imam Haddad), kull yaum yaqrouha. Ditalqin tiap pagi. Pertama dihafalkan dulu sama artinya, nanti dibaca setiap pagi, setelah wirid sebelum bubaran. Setiap hari, supaya hatinya terbiasa niat yang ikhlas karena Allah.

Allahu a'lam.
______
Sebagai penutup, ada kutipan ceramah yang lumayan relate dari al Habib Muhammad bin Jindan yang eln dapat dari repost-an story Ummu Salim Jindan (@little_jindan07).
"Cinta dunia, bukan buat mereka doang yang punya harta dan jabatan tinggi, bisa juga mereka yang tidak punya harta dan jabatan kecil. Jika orang kecil tersebut pikirannya harta dan jabatan, pikirannya bagaimana mendapatkan harta dan jabatan tersebut sehingga di akhirat nanti hisabnya bisa sama dengan mereka yang mempunyai harta banyak dan jabatan tinggi. Maka jalan tengah dan amannya gimana? Jalan tengah dan amannya adalah ridho atas apa yang Allah berikan sekalipun itu sedikit, karena seluruhnya sudah Allah tetapkan secara detail dan tepat bagi setiap makhlukNya."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan