Yuqiimus Sabab

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

Dars 8 Tarawih 1445 H
Bersama Ustadzah Niina

#FYI:
Ada 600 ribu orang yang setiap malam di bulan Ramadhan akan dibebaskan dari api neraka Allah.

Ketika kita punya harapan/ ingin meraih sesuatu, musti ada hal/ sebab yang kita lakukan. Atas tujuan apa yang ingin kita tetapkan, kita harus membuat sebab.
Misal; kita menginginkan surga, ridho Allah, maka ia harus melakukan sesuatu, misalnya: sholat, puasa, dzikir, atau apapun yang bisa dikerjakan untuk mencapai tujuannya.

Dikisahkan, ummi Amiroh Jindan dulu pernah cerita tentang kerinduannya dengan Hadromaut. Lalu Beliau membuat 'sebab' untuk bisa sampai ke Hadromaut, Beliau membuat syair ya Tarim wa ahlaha, hingga akhirnya syair tersebut dibaca orang di mana-mana, dan dalam waktu 2 bulan Beliau bisa berangkat ke Hadromaut.
Nah, semua yang masuk ke dalam surga kan memang masuknya dengan rahmat Allah, lalu apa fungsi kita harus beramal di dunia?
Jawabannya: Surga itu kan tingkatan nya banyak, ada 8 tingkatan, dan yang tertinggi adalah Firdaus al a'la. Masuk surga itu dengan rahmat Allah, tapi masuk di tingkatan yang ke berapa, yang menentukan adalah amalnya kita ketika di dunia.

Ketika Allah menentukan fulan sebagai penduduk surga, faltan sebagai penduduk neraka.. ketika di dunia, Allah akan menggerakkan fulan ini untuk melakukan amal seperti amalannya ahli surga, yang akhirnya, ujungnya ia akan masuk surga. Dan orang yang Allah akan tetapkan jadi penduduk neraka, Allah pun akan menggerakkan mereka beramal dengan amalan orang ahli neraka.

Kisah:
Ada seorang syaikh punya murid. Muridnya habis belajar lama, kemudian kasyaf. Ia bisa mengetahui bahwa syaikhnya tadi maktub/ tertulis sebagai orang yang celaka/ akan masuk ke dalam neraka. Akhirnya, murid ini menjauh, "bagaimana saya mau berguru sama orang yang celaka?"
Lalu, suatu ketika syaikhnya bertanya, "kenapa menjauh?"
"Syaikh, al 'afwu minkum, tapi saya melihat di lauhil mahfudz, antum maktub min ahli nar"
Syaikhnya senyum, nggak kaget, biasa aja, kata muridnya, "kok antum biasa aja, syaikh?"
"Antum baru tau seminggu yang lalu, ana udah tau 30 tahun yang lalu kalau saya min ahli nar. Kholas, tapi sekarang tugas saya bukan 'ohh saya sekarang udah ahli neraka, enggak. Saya sekarang dikasih kekuatan sama Allah, saya mau bersyukur sama Allah.'"

Subhanallah, jarak beberapa jam setelah itu, kata muridnya, "aku melihat di lauhil mahfudz syaqowahnya berubah menjadi sa'adah, ahli nar nya berubah menjadi ahli surga."

Nah, itulah mengapa kita harus 'yuqiimus sabab', mengerjakan/mendirikan sebab.

Memang kita ngga ngerti, surga neraka itu urusannya Allah Ta'ala, yang penting kita ngerjain kebaikan, ngerjain amalan-amalan nya orang ahli surga, yang kita denger dari para aslaf, dari Baginda Nabi Muhammad Saw.
Kalaupun kita ngga bisa sama persis seperti mereka, maka miripkanlah, samakanlah diri kalian dengan mereka. Sedikit demi sedikit.

Kalo Habib Abdullah bin Husein bin Thahir dikisahkan Beliau sehari bisa dzikir 25.000, nah, kita sehari 25 dulu. Kita berharap, sebagaimana Nabi bersabda:
((المرء مع من أحب))
((seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang dicintainya, dan seseorang akan dikumpulkan dengan yang memiripkan diri dengannya di dunia))

Lalu diajarkan sebuah doa dari Habib Ali al Habsyi, agar ketika kita sedang mengerjakan sebab, sebab-sebab yang kita lakuin itu punya ladzah/ rasa/ nikmat.
اَللَّهُمَّ أَذِقْنَا بَرْدَ عَفْوِكَ – وَ حَلَاوَةَ مُنَاجَاتِكْ
Ya Allah, cicipkan kepada kami dinginnya ampunanMu – dan nikmatnya bermunajat kepada Engkau.

Allahu a'lam .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan