Ujian dalam Hidup & Jangan Meminta pada Manusia

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

Dars 9 Tarawih 1445 H
Bersama Ustadzah Niina AlMunawwar.

Manusia itu diciptakan oleh Allah di dunia adalah untuk mendapatkan ikhtibar/ujian, seperti mana Allah sudah tuliskan di dalam Al Qur'an.

<Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes mani, kemudian sesungguhnya Kami akan memberikan ujian kepada mereka>

"Ya Allah, hidup berasa susah, berat, sempit,"
ya memang kita lagi diuji sama Allah.

Terus kenapa diuji? Tujuannya Allah apa?
Bisa kita lihat pada surah Tabarak (Surah Al Mulk):
<Allah ciptain hidup dan mati untuk menguji kalian, dan kemudian Allah bakalan lihat siapa di antara kita (yang semuanya yang hidup di dunia itu pasti diuji) yang paling bagus amalnya>

Diuji, tapi dia tetep bisa syukur, diuji tapi lisannya tetep bisa berucap 'alhamdulillah', berarti dia bagus amalnya.

Allah perlu ngga sih sama amalnya kita?
Enggak. Tho'atnya kita enggak bikin derajatnya Allah naik, pun maksiat kita juga ngga bikin hina nya Allah. Allah ngga butuh sama amalnya kita. Kita lah yang butuh dengan amalnya kita, kita lah yang butuh untuk menjadi bekal diri kita sendiri, untuk tabungan kita sendiri.

Dilanjutkan oleh Habib Ali Al Habsyi:
Mumpung masih hidup, mumpung masih bisa napas, bergerak, beramal,, manfaatin, capek-capek ngga papa, beramal, ngantuk-ngantuk gpp, bangun kerjain sholat.

Diceritakan ketika nanti semua orang sudah sampai di akhirat, ketika mereka saling bertanya,
"kita dulu hidup di dunia berapa lama sih? Ente berapa lama?"
Nggak ada di antara mereka yang menjawab,
"ooh saya 70 tahun", "oohh 80 tahun"
Mereka jawabnya, "yauman au ba'dho yaum, kayaknya kita kemarin hidup cuman sebentar, sehari kita hidup di dunia" (karena perbandingan hidup di akhirat adalah selama-lamanya).

Akhirat itu nggak cukup 1000-2000 tahun, tapi teruus ngga ada batasannya, makanya sampai orang yang di akhirat merasa dulu hidup di dunia padahal 70 tahun, tapi mereka bilang "saya hidup ni kayaknya cuman sehari, atau bahkan nggak nyampe" (saking sebentarnya kehidupan di dunia)

Maka tadi kata Habib Ali, mumpung kalian masih di dunia, ayo beramal, capeknya itu ngga bakalan sia-sia. Capeknya kita cuman sebentaran aja.

Memang kita butuh istirahat, tapi jangan sampai lebih banyakan istirahat dibanding amalannya. Kita musti menakar/ menimbang, jangan sampai tidurnya, istirahatnya, nyantai-nyantainya jauh lebih banyak dibandingin amalnya, dibanding ketaatan kita kepada Allah.

Karena katanya, "yaudah cuman di sini aja kita beramal, ketika nanti ruh kita ditarik sama malaikat Izrail (dan ditariknya itu mulai dari kaki, itulah mengapa, jenazah itu yang mulai kaku/dingin adalah bagian bawahnya). Jenazah udah bisa kelihatan, ada yang mukanya ngga enak, ada yang bisa senyum, ada yang biasa aja, bahkan ada yang sedih, karena begitu ruhnya mereka naik, yang pertama dilihatin adalah amalnya, mana amal yang diterima, mana yang nggak diterima,"

Begitu ruh diangkat, mereka sudah nggak bisa ngapa-ngapain, mereka sudah mulai menjumpai daaril jazaa' (hari pembalasan), daaril amalnya udah habis.

Guru-guru kita pun mengajarkan,
Hubabah Ummu Salim bin Hafidz kalau habis safar, orang yang menemani safar Beliau tuh udah tepar, tapi Hubabah masih wudhu lama di kamar mandi, lalu sholat. Yang menemani Beliau kebangun/nglilir, Hubabah masih sholat. Lalu ia tidur lagi, saat bangun, didapati Hubabah masih sholat. Padahal mereka habis melakukan perjalanan safar.

Kemudian yang menemani Beliau tanya,
"Hubabah, kok ngga kelar-kelar sholatnya?"
"Sekarang ini bukan waktunya rohah sebenernya, istirahatnya kita itu nanti ketika ada di kubur"

Maka Ya Allah, jadikan akhir kami nanti ketika di yaumil akhirat, menjadi akhirannya orang-orang yang Engkau ridhoi (karena akhiran mereka itu nikmat).
_________________
Nasihat dari Habib Ali yang selanjutnya, ketika Beliau sedang bicara dengan 'Ubaid bin Awad bafalya' (عبيد بن عوض بافليع)

Habib Ali ngajarin untuk jangan minta, jangan mengemis, jangan memohon kecuali kepada Allah.
Karena Allah itu satu-satunya Dzat yang kita minta sebanyak apa, bakalan Allah kasih dan nggak akan pernah ada habisnya. Yang paling kaya itu Allah, yang paling punya segalanya itu Allah. Tapi kalau makhluk yang kita minta, bakalan ada ujungnya, ada habisnya, mereka nggak mau selalu memberi apa yang kita mau.

Maka jangan pernah rendahkan diri kita, jangan pernah hinakan diri kita dengan meminta kepada makhluk, akan tetapi memintalah kepada Allah.

Allahu a3lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan