Pandangan Cinta
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.
Al Habib 'Ali al Habsyi dalam salah satu maqolahnya menyebutkan,
"ketika seseorang mendapatkan satu pandangan cinta, maka orang tersebut bisa berubah dari yang awalnya masih berakhlak buruk menjadi orang yang akhlaknya baik." (au kama qola)
*maaf, sebenarnya Ustadzah juga menyampaikan maqolah tersebut dalam bahasa Arab, tapi eln belum bisa 'menangkap' tulisan Arabnya seperti apa.
#NB: 'pandangan cinta' ini maksudnya adalah pandangan cinta dari Allah, atau bisa juga pandangan cinta dari Allah yang Allah titipkan pada orang-orang pilihan Allah, seperti para waliyullah..
Jadi, dikisahkan, dulu di Seiwun ada satu orang yang aqidahnya 'melenceng' dari aqidah ahlussunnah wal jama'ah. (Kalau di Jawa, kita kenal istilah 'pinter tapi keblinger', kurang lebih seperti ini istilahnya.. hehe). Lalu salah seorang Habib bernama Habib Muhsin bin Alwi Asseggaf mengutus satu persatu ulama secara bergantian untuk menasihati dan memperbaiki aqidah orang tersebut. Totalnya ada 10 ulama, namun ternyata 10 ulama ini malah 'katut' (ikut bergabung) ke aqidah 'melenceng'.
Akhirnya, Habib Muhsin mencari seorang wali quthb di zaman itu, Beliau bernama Al Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Tholib bin Salim Al Atthos (guru futuh dari Habib Ali Al Habsyi) yang tinggal di Huraidhoh untuk meminta Beliau menasihati orang tersebut. Habib Abu Bakar bertanya, "kenapa tidak antum saja yang menasihati?", lalu Habib Muhsin menjawab, "Bagaimana kok saya, lhawong 10 orang yang lebih 'alim daripada saya aja nggak mempan kok"
Kemudian Habib Abu Bakar datang ke rumah orang pintar yang keblinger tersebut. Dan benar, orang itu keluar dengan memakai jubah, rida', dan atribut lain-lain selayaknya seorang ulama yang 'alim. Akan tetapi, ketika ia melihat wajah Habib Abu Bakar, ia langsung berteriak, "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.. Tubnaa ilallah...tubnaa ilallaah.. saya bertaubat, saya telah melenceng dari aqidah ahlussunnah wal jama'ah.." sembari diulanginya beberapa kali... Hanya berkah memandang dan dipandang oleh seorang yang shalih..
Nah, jadi, Habib Abu Bakar juga dikisahkan bisa mengubah seseorang yang awalnya tidak pernah mengenal Allah, menjadi orang yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah.. Maka, Beliau memerintahkan santrinya si orang pinter yang sempat melenceng aqidah tadi untuk pergi ke pasar dan mencari satu orang yang tidak mengenal apa itu tuhan, ia tidak kenal Allah, ia tidak kenal agama..
Lalu berangkatlah santri tersebut, dan mulai bertanya ke satu persatu orang di pasar.. hingga sampailah ia pada satu orang yang ketika ditanya siapa tuhanmu, ia tidak tahu apa itu tuhan, apa itu Allah, dll.. Dibawalah orang tersebut ke hadapan Habib Abu Bakar.. Kemudian orang tersebut disuruh melihat Habib Abu Bakar dari ujung rambut sampai ujung kaki, setelah itu ditanya, "apa yang baru saja kau lihat?". Ia menjawab, "Ya aku lihat engkau, manusia yang layaknya seperti aku, makan juga seperti aku.." Kemudian Habib Abu Bakar gantian melihat orang tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki sembari berdoa "Bismillah bi'idznillah, ij'alhu min 'ibadikas shalihin"..
Setelah itu orang tersebut pulang dan merasakan demam. Namun esok harinya mendatangi Habib Abu Bakar di Masjid Thoha dan meminta Beliau mengumpulkan orang-orang, karena orang yang kemarin mendapat pandangan dari Habib Abu Bakar ingin menjelaskan bab Qur'an, tafsir, dll. bit tafshil (dengan pembahasan yang detail)....
MasyaAllahh... Dari kisah ini, kita bisa ambil salah satu hikmah betapa dengan sebuah pandangan dari orang-orang shalih yang di dalam hatinya tentu dipenuhi dengan cahaya kecintaan kepada Allah dan RasulNya dapat mengubah seseorang hingga 180 derajat, dari yang awalnya tidak baik menjadi baik, dari yang awalnya buruk akhlaknya menjadi baik akhlak, dari yang tidak mengenal Allah menjadi orang yang shalih pula..
Maka di sini, eln juga teringat, guru-guru kita sering menganjurkan untuk kita mengenalkan pada anak-anak kita tentang para ulama dan orang-orang shalih, mengajak mereka ambil barokah dengan bersalaman, tahnik, bahkan sekadar memandang dan dipandang oleh orang shalih semata-mata sebagai ikhtiyar kita, dengan berkah mereka dan berkahnya jamaah menjadikan anak-anak kita juga menjadi anak yang shalih shalihah...
Beberapa waktu yang lalu, eln sempat bertanya juga ke Ustadzah Niina.. Kisah yang diceritakan Beliau di atas, orang shalih yang memandang orang biasa 'kan seorang wali quthb, nah, jika kita juga ingin berniat memperbaiki diri, lalu kita husnudzon terhadap orang lain bahwa mereka adalah orang shalih, sehingga ketika mereka memandang kita, kita juga bisa berubah juga menjadi orang yang lebih baik, apakah bisa? Dan jawaban Beliau, bisaa.. justru bagus dan sudah semestinya kita berhusnudzon bahwa setiap orang yang kita temui adalah orang yang shalih...
Terakhir,
Ustadzah Niina memberi satu hikmah juga...
اَلْإِرْتِبَاطْ بِا الصَّالِحِيْنْ يُثْمَرْ السَّعَادَةْ وَ النَّجَاحْ فِيْ الدَّارَيْن
Pandangan/ ikatan dengan orang-orang shalih itu dapat membuahkan kebahagiaan dan keselamatan di dua alam (dunia dan akhirat)
Allahu a'lam.
(Diambil dari majelis bersama Ustadzah Niina Al Munawwar 10-8-2022, dengan sedikit penambahan)
Komentar
Posting Komentar