Dzauqiyah (Ilmu tentang Rasa)

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

    Temen-temen pernah ngelihat nggak sih, ada orang yang datang ke majelis, ikut baca maulid misalnya, terus tiba-tiba dia nangis,, baca qosidah, dia memejamkan mata, terus nangis, atau orang hadir majelis dan duduk khusyu, anteng, khidmat gitu ngikutin majelis, dll... Kira-kira kenapa tuh? Hehe.. Nah, bisa dibilang, mereka ini telah mendapatkan satu rasa, atau yang kita sebut dzuqiyah.. Dzauqiyah/ dzuq (ذوق) yang berarti "rasa".. Ustadzah Niina pernah menjelaskan kepada kita tentang ini..

    Ada 3 hal yang tidak akan kita dapatkan di tempat-tempat yang lain, kecuali di majelis-majelis kebaikan... 3 hal ini adalah;
1. Ma'rifatullah dan Ma'rifatunnabi
    Hadirnya kita di majelis ilmu akan membuat kita semakin kenal siapa Rabb nya kita, kita makin mengenal Allah, dan makin kenal lagi sama Nabi Muhammad Saw.
2. Cahayanya Allah..
    Ketika ada orang bertanya, "kenapa sih, kok kamu sukanya dateng ke majelis ilmu terus?", ya karena kita pengen bertambah iman/ cahaya (nur).. dengan bertambahnya cahaya, maka kita akan punya rindu yang lebih dalem lagi ke Nabi Muhammad, dan ini salah satu bekal yang akan kita bawa ke hadapan Allah kelak.
    Pada majelis yang lain, Ustadzah Niina menjelaskan bahwa "iman" itu bisa diartikan juga sebagai "cahaya".. Kalau kita melihat lampu atau bulan, kita bisa banget ngelihat cahaya yang mereka pancarkan, tapi kalau iman, bagaimana kita melihatnya? Nah, di sini Habib Umar bin Hafidz mengatakan, "Apabila cahaya/ iman itu masuk ke dalam hati seorang yang beriman, niscaya:
  • orang tersebut memiliki koneksi/ sambungan ke Allah.. Misalnya; ketika sedang beraktivitas, lalu terdengar adzan, maka orang tersebut tergerak untuk menuju sholat, atau menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menjawab adzan, bahkan sangat mungkin ia tersentuh dan menangis saat mendengar adzan. Pokoknya, segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah, ia akan tergerak, bahkan sampai menitikkan air mata.
  • akan bertambah rindunya pada Nabi Muhammad Saw."
3. Dzauqiyah (rasa)
    Ilmu tentang "rasa" nggak hadir secara tiba-tiba, akan tetapi harus kita munculkan, kita tumbuhkan, kita pupuk dan kita bina.. Dengan cara apa? Rasa ini bisa kita dapat dengan cara menghadirkan Nabi Muhammad Saw. di dalam aktivitas yang kita lakukan. 

Btw, ilmu "rasa" yang seperti ini, dulu juga dimiliki oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw..
     Dikisahkan, saat itu salah satu paman Nabi Muhammad Saw. yang bernama sayyidina 'Abbas bin 'Abdul Mutthalib, yang mana Beliau berusia lebih tua daripada Nabi Muhammad Saw.. Kemudian sayyidina 'Abbas ditanya oleh sayyidina 'Ali bin Abi Thalib..
يا عم عباس, من أكبر, أنت ولا رسول الله؟
"Wahai paman 'Abbas,, manakah yang lebih tua usianya, engkau atau Rasulullah?"
(Riwayat lain; manakah yang lebih besar usianya?)
محمد أكبر مني, و انا ولدتُ قبله بسنتين
"Muhammad lebih besar dari saya, akan tetapi saya lahir dua tahun sebelumnya"

     Nah, kenapa sih kok sayyidina Abbas mengatakan demikian? Ya karena Beliau tau bahwa Rasulullah itu 'lebih besar', dalam hal kenabian, lebih besar kebijaksanaannya, lebih besar dapat dipercayanya, lebih besar dalam segala sesuatunya..

     Begitu pula yang dimiliki oleh empat khulafaur rasyidin; sayyidina Abu Bakar, sayyidina Umar, sayyidina Utsman, dan sayyidina Ali.. Sepeninggalnya Rasulullah saw., sayyidina Abu Bakar tidak pernah naik ke atas tangga mimbar yang sama dengan tangga mimbar Rasulullah saw.., Beliau selalu berada satu tangga di bawah tangga mimbar Rasul saw.. Sayyidina Umar pun ketika menggantikan kepemimpinan sayyidina Abu Bakar, tidak pernah menempati tangga yang sejajar Rasulullah ataupun sayyidina Abu Bakar, Beliau selalu menempati satu tangga di bawah tangga mimbar sayyidina Abu Bakar, dan seterusnya hingga kepemimpinan sayyidina Ali pun demikian..

     Hingga dalam keadaan wafatnya, kuburan sayyidina Abu Bakar dan sayyidina Umar tidak sejajar dengan kuburan Rasulullah saw., akan tetapi mundur ke bawahnya. Dalam satu riwayat, kepala sayyidina Abu Bakar di kuburnya sejajar dengan pundaknya Nabi Muhammad saw..

     Tidak hanya itu, di setiap majelis yang diadakan oleh Rasulullah saw., maka semua kepala sahabat yang hadir rata / lurus, bahkan dikatakan, kalau saja ada burung ingin naik atau bertelur di atas kepala mereka, burung-burung itu nggak akan menyangka kalau itu adalah kepalanya orang.. saking tenang dan 'anteng'nya para sahabat saat mendengarkan Nabi Muhammad saw.

     So,, ilmu dzauqiyah inilah yang membuat seseorang memiliki adab yang bagus.. dan seperti itulah yang dididik oleh Rasulullah saw. kepada para sahabatnya.. Ustadzah Niina kemudian memberikan saran kepada kita untuk melatih diri kita, membayangkan bahwa kelak majelisnya kita, yang akan duduk di depan kita, yang akan berbicara dan menyampaikan ceramah adalah Nabi Muhammad saw.., yang kita suguhin minum adalah Nabi Muhammad, yang akan main ditengah-tengah kita adalah sayyidina Hasan dan sayyidina Husein, dan lain sebagainya.. Kalau ada info majelis kebaikan, maka datangilah, hadirlah, dan kalau kita sudah hadir, maka banyakin niat.. Niat agar kita semakin dekat dengan Allah dan Nabi Muhammad, niat agar kita memiliki ikatan yang kuat dengan Allah dan Nabi Muhammad.. karena satu-satunya الشافع والمشفع orang yang dapat memberikan syafa'at kelak di hari kiamat adalah Nabi Muhammad saw...
____________________________________________________________
"Ciptakanlah selalu amalan-amalanmu yang terbaik, agar kelak Allah berkenan untuk mengambil kita dalam hal/ keadaan yang terbaik"
- Ustadzah Niina Al Munawwar

Fii khairin wa luthfin wa 'afiyah.. Aamiin yaRabbal 'alamin..
Allahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan