Sedekah yang Bikin Bangkrut
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.
Mukhtasor Pembahasan kitab Risalatul Jami'ah, disampaikan oleh Ustadzah Muna Al Munawwar (12 Juni 2022)
Selain maksiat secara perbuatan/ gerakan tubuh, ternyata ada juga yang disebut maksiat anggota tubuh. Salah satu contohnya adalah maksiat lisan. Yup.. Lisan, anggota tubuh yang kecil, namun ternyata dapat memberikan dampak, bahkan bisa berbuat dosa entah itu kita sadari atau tidak. Maksiat lisan pun ada banyak jenisnya, seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), kidzib (berbohong), melaknat, mencaci, dan lain sebagainya. Pada entri kali ini, eln akan tuliskan ringkasan pembahasan dari Ustadzah Muna mengenai salah satu ma'ashil lisan (maksiat lisan), yaitu ghibah.
Apa itu ghibah?
الغيبة : ذكرك أخاك المسلم بما يكره
Ghibah adalah membicarakan keburukan muslim lainnya dengan sesuatu yang jika orang tersebut mendengar, dia nggak suka (sakit hati). Walaupun yang diucapkan tersebut benar adanya.
Kenapa nggak boleh ghibah?
- Rasulullah SAW. bersabda:
((اَلْغِيْبَةْ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا))
((Ghibah itu lebih buruk/ lebih besar dosanya daripada zina))
Bahkan di riwayat lain; dosanya sama seperti melakukan 33 kali zina.
- Di dalam Al Qur'an Surah Al Hujurat ayat 12 juga disebutkan, yang artinya;
<Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan ada di antara kamu yang menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Maka tentulah kamu akan merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang>
Ayat tersebut berisi larangan, salah satunya adalah ghibah. Bahkan perbuatan ghibah diibaratkan seperti kita memakan bangkai saudara kita sendiri..
Dikisahkan, suatu ketika seorang syaikh bernama Ibrahim bin Ad'ham bersama beberapa orang sedang menunggu jamuan makan dari orang lain. Di sisi yang lain, ada sekelompok orang sedang asyik ghibah sembari menunggu makanan datang. Kemudian Syaikh Ibrahim mengatakan,
"Biasanya, kita kalau makan itu rotinya dulu yang dimakan.. Tapi sekarang, kita makan dagingnya dulu.."
Orang-orang tersebut kebingungan, lalu berkata,
"Apa maksudmu, Syaikh? Ini belum ada makanan yang datang di hadapan kita.."
"Kalian kasih makan kita daging bangkai saudaramu yang barusan kamu gunjingi (kamu bicarakan).. Jadi, kalian silakan makan, karena saya sudah nggak ingin makan."
Dan Syaikh Ibrahim pun meninggalkan mereka. (au kama qola)
Kemudian Ustadzah menjelaskan, bahwa semua keburukan yang kita lakukan atas orang lain adalah hutang. Ghibah pun juga termasuk hutang. Maksudnya, salah satu balasan apabila seseorang berbuat keburukan semasa hidupnya (mendzolimi orang) atau meng-ghibah, misalnya, maka orang yang kita dzolimi akan 'menuntut' kita kelak di akhirat. Di akhirat nanti, kita nggak akan bisa membayar dengan uang atau harta kita, karena uang dan harta nggak laku di sana,, yang kita miliki hanya amal saja, maka cara kita membayar adalah dengan memberikan amalan kebaikan (pahala) yang kita telah lakukan selama di dunia kepada orang yang dighibahi/ didzolimi. Jika amalan kita habis, maka keburukan (dosa) mereka lah yang akan dilimpahkan ke kita. Wal'iyadzubillah min dzalik..
Maka dikisahkan, ada seseorang dari Mesir yang kalau tidak salah dengar bernama Syaikh Afdholuddin al Misri. Beliau di waktu tertentu melakukan suatu amalan. Kemudian ditanya oleh seseorang, dan Syaikh menjawab, "saya ini beramal bukan untuk diri saya, tapi saya takut kalau saya pernah dzolim sama orang, lalu pahala amalan baik saya berkurang karena diberikan ke orang yang saya dzolimi, dan membuat amalan saya habis di akhirat." Jadi, Syaikh melakukan amalan di waktu tertentu, tidak lain adalah untuk membayar 'hutang' atas kedzoliman yang barangkali pernah dilakukan semasa di dunia.
Kisah berikutnya, dari seorang ulama bernama Syaqiq Al Balkhi.
Ulama tersebut 'di-omelin' istrinya karena terlambat bangun malam. Biasanya ulama tersebut beberapa jam sebelum subuh sudah bangun dan beribadah. Namun syaikh Syaqiq tetap tenang, lalu bangun dan mengatakan,
"Wahai istriku, kamu nggak usah ngomel. Walaupun saat ini saya nggak ibadah, tapi saya sudah dapat pahala ibadah dari orang di sekitar saya"
"Kamu tau dari mana?" (kok pede banget gitu yaa,.. hhehe)
"Karena orang-orang di sekitar kita banyak yang ngomongin saya..."
Begitulah kiranya makna dari "setiap keburukan adalah hutang".. :')
Bahkan, salah seorang ulama bernama Abdullah ibn Mubarak menyebutkan,
"Kalau saya mau ghibah, maka yang saya bakal ghibahin adalah orang tua saya. Karena sebenarnya, orang yang paling pantas buat dapetin amal baik saya adalah orang tua saya.."
Beliau sangat tahu bahaya ghibah yang dapat mentransfer pahala kita kepada orang yang kita ghibahin..
Ustadzah Muna mengatakan,
Kalau ada di antara kita yang mau sedekahin amalan/ pahalanya ke orang lain, maka ghibahin orang aja yang banyak.. Hehe.. Tapi ingeeet,, ghibah ini adalah sedekah yang nggak dapet ganjaran/ pahala. Ini adalah sedekah yang bikin kita bangkrut kelak di akhirat. Wal'iyadzubillah min dzalik.
Dikisahkan juga, Imam Hasan Al Bashri ketika datang satu orang yang mengatakan kepada Beliau bahwa ada orang yang sedang menggunjing Beliau. Kemudian sang imam pulang, Beliau nggak marah, akan tetapi Beliau ingin menyiapkan hadiah seperti kurma, dan lain-lain. Beliau ingin membawakan hadiah tersebut untuk orang yang telah menggunjing Beliau, lalu berterima kasih karena telah rela men-transfer pahala kepadanya secara cuma-cuma.
# Hikmahnya, kalem aja kalau ada yang ghibahin kita.. hehe..
Berikutnya, ada kisah lagi..
Ada satu orang shalih, di siang hari ia mendengar ada seseorang yang sedang ghibah, akan tetapi Beliau tidak mengingatkan/ menasihati. Kemudian, malamnya Beliau bermimpi sedang dipaksa untuk makan daging babi. Ia menolak, tapi dipaksa lagi. Lalu menolak lagi. Begitu seterusnya. Lalu Beliau tanya, kenapa disuruh makan daging babi? Ternyata, sebabnya karena di siang hari Beliau mendengar orang ghibah, tapi tidak dinasihatin.. :(
Kisah lain, ada seorang sahabat Nabi bernama sayyidina Abdullah ibn Mas'ud ketika menunggu waktu shalat tiba, Beliau tau ada orang (yang sama-sama menunggu waktu sholat) sedang ghibah. Kemudian sahabat Abdullah bin Mas'ud mengajak mereka wudhu lagi, padahal mereka saat itu masih ada wudhu. Lalu Beliau menjelaskan, "bisa jadi, bau bangkai busuk yang kalian ucapkan (karena ghibah) lebih busuk daripada hadats (yang menyebabkan batalnya wudhu) itu sendiri".
MasyaAllah.. Inilah seseorang yang memiliki ikatan kuat dengan Allah dan memiliki pemikiran/ pemahaman/ hikmah yang jauh lebih di atas kita. :')
Terakhir, Ustadzah Muna memberikan satu perbedaan..
Terkadang, kita ingin mencari solusi dari permasalahan kita, namun kita perlu menyebutkan/ menceritakan tentang orang lain.. nah, di sini ada rinciannya,,,
1. Jika kita ingin menggunjing untuk mencari solusi, maka carilah orang yang tepat, orang yang memiliki kebijaksanaan di dalam 'menyaring' segala sesuatu (informasi), seperti ulama..
2. Jika ghibahnya kita karena ingin membicarakan keburukan orang, biasanya kita akan merasa lega/ puas saat sudah selesai ngomongin orang tersebut. Namun, jika ghibahnya kita karena ingin mencari solusi, maka kita ada rasa puas saat sudah mendapat solusinya.
Tambahan:
Maksiat lisan yang kedua adalah Namimah.
Rasulullah SAW. bersabda,
((لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةْ اَلنَّمَّامْ))
((Tidak akan masuk surga seorang pengadu domba))
Namimah/ adu domba ini biasanya terjadi berbarengan dengan ghibah. Karena kedua hal ini seakan-akan kita sedang mengadu domba, dari orang yang dibicarakan (dighibahin) dengan orang yang sedang bicara dengan kita. Awalnya mungkin antara dia dan orang yang dighibahin nggak ada masalah, hatinya pun juga biasa aja/ nggak ada masalah, namun setelah diceritakan, ia malah menjadi benci.
Contoh, si A dan B sedang ghibahin C. Awalnya si B nggak ada masalah apa-apa sama C, mereka berteman baik, tapi karena si A 'ngomporin' dan 'ngeghibahin', akhirnya si B jadi benci dan jauhin si C.
Kisah,
Di zaman dahulu kan masih dikenal adanya jual beli budak. Kemudian datang satu orang ingin membeli budak. Si penjual menceritakan kebaikan-kebaikan si budak. Lalu si pembeli bertanya tentang kekurangan budak tsb., karena sedari tadi yang diceritakan hanyalah kelebihannya. Kemudian dijawab, "ia tidak memiliki kekurangan, kecuali 1 hal. Ia adalah orang yang senang mengadu domba."
Akhirnya, karena si pembeli merasa tidak masalah dengan 1 sifat buruk tersebut karena yang dibutuhkan adalah hasil kerjanya, maka dibelilah si budak... Beberapa waktu berlalu, si budak 'kumat', ia berencana ingin mengadu domba antara majikan laki-laki dan majikan perempuannya. Singkat cerita, kedua majikannya pun t3w4s dan terjadi salah paham antara dua keluarga besar, hingga anak cucu keturunannya hidup nggak akur. Hal ini disebabkan karena akibat dari perbuatan ghibah dan namimah.. Allahu a3lam.
Maksiat lisan ketiga adalah kidzib atau berkata bohong.
Allah SWT. menyebutkan di dalam Al Qur'an,
وَيْلُ الِلْمُكَذِّبِيْنْ
<Celakalah bagi orang yang berbohong>
(Di riwayat lain, kata "wail" juga berarti "neraka wail")
((اَلْمُؤْمِنْ لَا يَكْذِبْ))
((Seorang yang beriman itu tidak berbohong))
Jauhilah perbuatan berbohong bahkan pada hal-hal yang kecil, dan biasanya, satu kebohongan yang dilakukan akan mengundang kebohongan-kebohongan lainnya.. Jadi,, bahaya bangeet...
Maksiat lisan keempat dan kelima adalah mencaci dan melaknat. Allahu a3lam.
Jadi, inti dan maksud dari judul entri kali ini lebih kepada pembahasan mengenai ghibah. Ghibah-lah yang disebut sebagai 'sedekah (pahala) yang bikin (kita) bangkrut' di akhirat. Wal'iyadzubillah min dzalik.
Maka semoga Allah SWT. senantiasa melindungi kita semua, keluarga kita, anak cucu keturunan kita dari segala macam keburukan dan perbuatan maksiat.. fii khair wa luthfin wa 3afiyah.. Aamiin yaRabbal 3alamin.
Jika ingin menjadi orang yang mulia,
Maka mulailah dengan bertekad untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan dan keburukan.
- Ustadzah Muna Al Munawwar
Komentar
Posting Komentar