Pejuang Cinta [HBH Part 2]

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

Melanjutkan entri sebelumnya dalam rangka Halal bi Halal di Ma3had Nuruzzahro. Tausiyah kedua disampaikan oleh Ustadzah Alina Al Munawwar.

Pertama, sebagai intro, Ustadzah menjelaskan tentang pengertian "Halal bi Halal".. Sebenarnya, istilah halal bi halal itu nggak ada di dalam Islam, karena itu adalah adat dari orang Indonesia, namun mengambil lafadz dari bahasa Arab. Kurang lebih, makna dari adat halal bi halal di Indonesia adalah suatu kegiatan yang di dalamnya kita saling meminta maaf dan memberi maaf. 'Kan sering tuh kita kalau minta maaf ke orang lain, kita ucapkan, "minta halalnya yaa.. (maksudnya lebih ke mohon maaf atas kesalahan yang sudah kita lakukan).

Berikutnya, Ustadzah mulai membahas tentang cinta. x'D
Para Ulama membagi hambanya Allah menjadi dua jenis,
1. Hamba yang langsung dipilih/ dicinta oleh Allah. Hamba ini nggak perlu bersusah-susah, sebab apapun yang menjadi keinginannya akan langsung diijabah oleh Allah dan diberi kontan, bahkan ada yang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, langsung Allah kabulkan, dan
2. Hamba yang harus mencari/ berusaha untuk mendapatkan cintanya Allah. Ia adalah hamba yang perlu bersusah-susah terlebih dahulu, perlu diuji dan diberi cobaan. Sebagaimana hadits yang berbunyi,

((إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا, إِبْتَلَاهُ))
((Jika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan mengujinya))

Maksudnya gimana? Misalkan ada seorang fulan cinta sama seseorang, maka kira-kira kalau orang tersebut ingin sesuatu, langsung dikabulin nggak? Pasti langsung dong, 'kan udah cinta.. Nah, begitu pula dengan seorang hamba yang sudah dapat stempel 'dicintai' Allah, nggak peduli seberapa banyak amalan yang dilakukan oleh si hamba, Allah akan memberi apapun yang hamba tersebut inginkan, istilah lainnya: "cinta tak bersyarat".. Ya Allah, keren banget yaa.. Tapi siapa kita,,? Kita yang belum jadi golongan hamba pertama yang langsung dipilih sebagai hamba yang dicinta, maka kita musti berusaha dulu untuk dapetin cinta Allah. Terus gimana caranya?

Ustadzah memberikan nasehat,
Jika kita melakukan ibadah, jangan ada niat/ tujuan untuk mendapat pahala/ ganjaran. Tapi kita niat beribadah untuk mencari cintanya Allah. Karena sesungguhnya, yang ngasih kemudahan kita untuk ibadah, yang memberi kekuatan, yang nggerakin badan kita adalah Allah.

Orang yang beribadah karena mengharapkan pahala diibaratkan seperti fulan memberi uang kepada anaknya dan memerintahkan sang anak menyampaikan uang tersebut ke pengemis. Namun, setelah uang diberikan ke pengemis, si anak kembali lagi ke fulan dan minta upah karena sudah 'jalan' dan memberi uang ke pengemis itu. Padahal 'kan uang yang dikasih ke pengemis itu uang fulan, anaknya cuma disuruh jalan dan ngasihin uang itu ke pengemis, tapi kok minta imbalan? Aneh kan.. Hehe.. (iya juga ya..) Jadi, meskipun memang kita tau ada fadhilah/ keutamaan yang dijanjikan Allah di dalam ibadah ini itu, namun nggak semestinya kita melakukan ibadah karena mengharap pahala/ fadhilah tersebut. Urusan dapat fadhilah atau engga, itu urusan Allah, Allah yang akan atur semua.

Pecinta = Pejuang
Ketika Allah memberi kita suatu peluang untuk berbuat kebaikan, maka sebenarnya itu adalah salah satu tanda / kesempatan bahwa Allah akan memberikan cintaNya untuk kita. Karena ternyata, untuk melakukan satu kebaikan tuh butuh izin dari Allah..

Hal ringan aja, seperti mengucapkan "Allah", "Alhamdulillah", "Asmaul husna", kalau Allah nggak kasih izin kita, ya nggak akan terbesit di pikiran atau terucap di lisan kita. Wal'iyadzubillah.

Ustadzah berpesan, senantiasa mohon izinlah pada Allah agar kita bisa terus melakukan kebaikan, perbesar rasa syukur kita jika kita masih diberi izin melakukan kebaikan, kemudian terus menerus layakkan diri kita untuk pantas dicinta Allah.. 

Nabi Muhammad SAW. di dalam suatu hadits bersabda mengenai ciri-ciri orang yang dicinta Allah (hatinya dipenuhi cahaya Allah).
((1. Ia menjauhi tempat yang penuh dengan tipu daya (yaitu dunia). Adalah orang yang senantiasa menjauhkan diri atau tidak memiliki satu tempatpun di hatinya untuk dunia. Meskipun ia memiliki dunia di tangannya, namun tidak menjadikan ia memiliki rasa cinta kepada dunia.
2. Fokusnya adalah untuk mendekat pada perkara yang abadi (akhirat), dan
3. Mempersiapkan saat kematiannya. Ia sudah memikirkan di keadaan seperti apa, di waktu dan tempat yang bagaimana ia ingin wafat kelak.))

Bahkan dikisahkan, bahwa Rasulullah, sebaik-baik ciptaan Allah pun tetap beribadah sepanjang siang dan malamnya, padahal sudah dijamin surga untuk Beliau, sampai Sayyidah Aisyah bertanya-tanya, dan Rasulullah menjawab,
((أَفَلَا اَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرَا؟))
((apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?)) (au kama qola)..
Begitu juga Sayyidah Robi'atul Adawiyyah pernah berdoa, "Ya Allah, jika aku beribadah kepadaMu karena mengharap surga, maka jangan masukkan aku ke dalam surga. Dan jika ibadahku ini karena aku takut pada nerakaMu, maka masukkan aku ke dalam neraka" (au kama qola), karena saking Beliau ibadah kepada Allah karena cinta, bukan karena surga atau neraka.
 
Terakhir, Ustadzah Niina menambahkan, bahwa keikhlasan itu bertingkat (punya grade),
1. Ibadah dengan cinta. Inilah tingkatan paling tinggi.
2. Ibadah karena mengharap pahala, dikabulkannya hajat/ doa, atau surga.

Maka, mulai sekarang jangan mikirin untung-rugi sama Allah. Belajar sedikit demi sedikit untuk tidak menjadi hamba yang transaksional (hitung-hitungan pahala, ganjaran, atau surga ke Allah).
"Kalau saya ngelakuin ibadah ini, saya dapet apa yaa?" ❌
Jika kita masih berada di grade kedua, nggak masalah, kita tetap berusaha dan belajar untuk menjadikan ketaatan kita nantinya adalah sebab cinta kita kepada Allah.

يا الله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق

Allahu a3lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan