Adab ketika Bersilaturahmi [HBH Part 1]
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.
Kemarin Ahad, 15 Mei 2022, bertempat di Ma3had Nuruzzahro Semarang, Ustadzah Alina dan Ustadzah Muna Al Munawwar mengadakan 'open house' dalam rangka Halal bi Halal. Di awal perjumpaan, kami membaca qosidah/ maulid Burdah bersama, dan kami juga dikejutkan dengan penampilan Ustadzah yang mengenakan pakaian berwarna yang sangat cocok dan elegan. MasyaAllaah.. Itu kali pertama kami melihat Ustadzah dengan sebegitu indahnya, biasanya setiap dars Ustadzah memakai abaya hitam dan pashmina motif yang juga indah, nah kalau kali ini lebih indah lagi.. Ustadzah juga ngendikan, "kami pakai baju serba hitam kalau di luar rumah saja, di dalam rumah kami pakai baju warna-warni" MasyaAllah Tabarakallah..ehehe..
Berikutnya, karena acara ini diselenggarakan dalam rangka 'halal bi halal' dan bertempat di pesantren, maka tentu tidak lepas dari adanya tausiyah. Pertama diawali dengan penyampaian tausiyah oleh Ustadzah Muna. Beberapa point yang eln catat dan semoga dapat mewakili setiap kalimat indah yang telah dibawakan Ustadzah (FYI, kita memang tidak diperkenankan untuk merekam dalam bentuk apapun, ima gambar/ foto, audio/ rekaman suara, wa ima video. Jadi, insyaAllah semoga tidak ada yang salah dalam apa yang eln catat yaa..). :)
Ustadzah Muna membahas tentang makna silaturahmi. Apa itu silaturahmi?
Nah, silaturahmi itu identik dengan kita melakukan kunjungan kepada sanak saudara kita.
Rasulullah SAW. bersabda:
((مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ))
((Barangsiapa yang suka/ senang rezeqinya diluaskan Allah dan umurnya dipanjangkan, maka hendaknya ia bersilaturahmi)) au kama qola
Lalu, Ustadzah bertanya, apakah di antara kita ada yang sudah nggak betah hidup di bumi? Atau kita ingin berumur panjang? Sontak sebagian besar jamaah menjawab ingin punya 'jatah' umur panjang di bumi. Ustadzah menjawab, yang Beliau tahu, orang-orang sholeh justru nggak ingin berlama-lama di bumi. :D Nahh,, bingung kan kita. Hehehee.. Kemudian Ustadzah melanjutkan, biasanya saat ada yang berulang tahun, apa hal pertama yang akan kita minta? Tentu panjang umur. Sekarang pertanyaannya, kalau kita dikasih panjang umur, kita mau ngapain? Umur kita mau diisi dengan apa? Coba kita niatkan, semoga kita diberi umur panjang untuk memperbanyak bekal kita menghadap Allah kelak di hari akhir, jangan hanya minta diberi umur panjang tapi kita belum tau mau dipakai untuk melakukan apa. Oh iya, eln inget banget, dulu Ustadzah juga pernah mengajarkan, saat kita berdoa/ mendoakan orang lain, kita ucap seperti contoh,
"Semoga panjang umur fii tho'atillah wa rasuulih"
Maksudnya, semoga diberikan panjang umur di dalam ketaatan pada Allah dan RasulNya.. Jadi bukan panjang umur yang di dalamnya kita justru melanggar larangan Allah dan RasulNya.
Di dalam hal ini, Imam as Syafii pernah mengatakan, "Kalau bukan karna adanya perkumpulan orang sholeh di dunia, dan waktu malam di mana aku bisa berdua-duaan dengan Allah, bermunajat dengan Allah, tentu saya sudah nggak betah lagi di dunia" (au kama qola)
Silaturahmi di dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata, yaitu as shilah dan ar rahim. As shilah (الصلة) memiliki asal kata washola-yashilu-wushulan-washilatan yang berarti ikatan yang kuat, erat, dan tidak mudah dipisahkan. Sama seperti sholat yang memiliki akar kata yang sama dengan silaturahmi. Sholat merupakan ikatan yang kuat antara kita dengan Allah. Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan Allah (sholatnya baik), maka kita akan mendapatkan kesuksesan dan keselamatan. "Hayya alal falah", di dalam adzan yang bermakna marilah menuju kesuksesan. Sedangkan arti ar rahim (الرحيم) adalah perhatian yang tulus dan kasih sayang yang dalam. Begitu pula rahim, tempat di mana janin tinggal selama masa kehamilan. Dinamakan rahim juga, karena di sana terletak perhatian dan kasih sayang yang sangat dalam dari seorang ibu kepada calon anaknya.
Selanjutnya, Ustadzah jelaskan, untuk mendapatkan fadhilah/ keutaman silaturahmi yang disebutkan di dalam hadits, maka jangan lupa untuk memperhatikan tata caranya, beberapa diantaranya:
1. Mendoakan kebaikan bagi sohibatul bait (pemilik rumah yang kita kunjungi)
Senatiasa ingatlah saudara kita dengan mendoakannya.
2. Tidaklah disebut silaturahmi apabila kita masih membicarakan aib saudara kita yang kita datangi.
Misalnya nih, kok kebetulan rumah sohibatul bayt nya agak berdebu, lalu kita mengatakan (baik di dalam hati atau mengucapkannya secara lisan), "rumah kok kotornya kayak gini, apa nggak pernah dibersihin to?). Nah, hal ini juga merupakan pelajaran bagi sohibatul bayt/ tuan rumahnya, jangan sampai rumah-rumah kita tidak mencerminkan rumahnya orang Islam (baca point ke 3).
3. Bagi sohibatul bayt agar mempersiapkan rumahnya seindah mungkin.
Hal ini diajarkan sejak dulu oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi adalah orang paling indah, paling rapi, dan paling bersih. Nabi pun mewangikan dan meminyaki rambut Beliau. Bahkan, disunnahkan 3 hal untuk kita bawa saat di luar rumah, yaitu: cermin, sisir, dan minyak wangi. Bukan berarti kita harus sisir-an ditengah jalan, atau sebentar-sebentar kita bercermin, namun 3 hal ini sebagai 'alarm' pengingat agar kita selalu memperhatikan penampilan kita supaya rapi dipandang.
4. Menjaga prasangka kita kepada tuan rumah/ siapapun yang kita temui.
Hindari berprasangka buruk ya... :)
5. Membicarakan kebaikan tuan rumah.
Bisa dengan kita memuji masakan/ suguhan dari mereka, atau yang lainnya.
Rasulullah SAW. bersabda:
((لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةْ: اَلْقَاطِع))
((Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi))
Terakhir, sebagai penutup, Ustadzah ceritakan satu kisah, yang semoga membuat kita selalu 'aware' atau berhati-hati agar tidak memutuskan silaturahim dengan siapapun.
Dikisahkan, ada seorang kaya raya yang hendak pergi berhaji. Sebagaimana yang kita tau, zaman dahulu hajinya bisa berbulan-bulan, karena perjalanan untuk sampai ke Makkah tidak ditempuh dengan mudah seperti menggunakan pesawat, namun mereka harus menyeberang menggunakan kapal, menaiki unta, dll. Orang tersebut tidak mungkin meninggalkan harta bendanya begitu saja, lalu datanglah ia kepada satu orang sholeh dan menitipkan harta kepadanya. Singkat cerita, sepulang dari perjalanan haji, ternyata orang sholeh yang dititipi harta ini meninggal dunia. Orang kaya bertanya kepada ahli keluarganya, pada istri si orang sholeh, anak-anaknya, namun tidak ada satupun yang mengetahui di mana orang sholeh menyimpan amanah harta si orang kaya.
Nah, itu artinya, si orang sholeh adalah orang yang amanah. Karena, ciri-cirinya orang amanah adalah jika dititipi amanah, ia tidak memindahtangankan/ melimpahkan sesuatu yang diamanahkan kepada orang lain, kecuali jika sudah mendapat izin dari orang yang memberi amanah.
Kemudian dibawalah permasalahan ini, ditanyakan kepada seorang wali min auliya'illah. Sang wali menyarankan agar orang kaya tsb. pergi ke bi'ir (sumur) zamzam dan memanggil nama si orang sholeh. Bi'ir zam-zam adalah tempat di mana Allah mengumpulkan ruh orang-orang sholeh semasa hidupnya. Jika nama yang dipanggil termasuk dalam golongan orang sholeh, maka ruh tersebut akan datang dan kita dapat bertanya/ berbicara pada mereka.
Sepulang dari bi'ir zamzam, tidak didapati satupun ruh yang menjawab. Lalu sang wali menyarankan orang kaya itu menuju ke bi'ir bar7hut di daerah Yaman, di mana ruh orang-orang kafir dan fasiq berada. Fasiq adalah orang-orang yang banyak melakukan kemaksiatan.
Lalu, di bi'r barhut lah ia bertemu dengan si orang sholeh. Orang sholeh menjelaskan tempat-tempat di mana ia menyimpan amanah harta milik orang kaya. Kemudian orang sholeh juga menitipkan satu amanah kepada orang kaya, "tolong sampaikan permintaan maafku kepada ahli keluargaku". Karena ternyata si orang sholeh pernah memutuskan tali silaturahmi kepada kerabatnya. Allahu a'lam.
Ya Allah, semoga kita selalu dijaga daripada perbuatan memutus tali silaturahim kepada sanak saudara semuanya. aamiin, fii khair wa luthf wa 3afiyah..
Komentar
Posting Komentar