A Poem: Kegelapan
Senyaman apapun kita jika berada di kegelapan,
ربنا ظلمنا أنفسنا و إن لم تغفر لنا و ترحمنا لنكونن من الخسرين...
.
Latepost: 📷 #Ramadhan
Sebebas dan sehening apa kehidupan yang kita dambakan..
Pada kenyataannya, kita tetap membutuhkan adanya sinar..
.
Memang, beberapa bagian bumi Ia takdirkan selalu diselimuti oleh malam,
Tapi apa jadinya jika seluruh bumi tertutup dengan kegelapan?
Mungkin saat itulah akan sulit bagi kita menjalankan kehidupan..
.
Sungguh indah dan bijaksananya Ia..
.Pada kenyataannya, kita tetap membutuhkan adanya sinar..
.
Memang, beberapa bagian bumi Ia takdirkan selalu diselimuti oleh malam,
Tapi apa jadinya jika seluruh bumi tertutup dengan kegelapan?
Mungkin saat itulah akan sulit bagi kita menjalankan kehidupan..
.
Sungguh indah dan bijaksananya Ia..
ربنا ظلمنا أنفسنا و إن لم تغفر لنا و ترحمنا لنكونن من الخسرين...
.
Latepost: 📷 #Ramadhan
Ini adalah puisi (ala-ala/ sekadarnya) yang eln buat dan upload di akun Instagram. Terinspirasi dari kondisi saat mati listrik ketika Ramadhan. Di entri blog kali ini, eln ingin mencoba menjelaskan makna puisi itu dari sudut pandang eln. Ada dua makna yang eln dapat dari kondisi ini.
Makna ke-1: Merindu Cahaya
Kita tau bahwa nggak ada satupun orang di dunia ini yang nggak memiliki dosa (kecuali Rasulullah SAW. yang memang ma'shum/ terjaga dari perbuatan dosa), itu artinya, kita sebagai orang biasa pasti memiliki sisi gelap (memiliki banyak dosa keburukan). Barangkali kita sempat berangan-angan bahwa kehidupan kita akan selalu nyaman, bebas seperti yang kita inginkan (kehidupan tanpa aturan), dan hening/ tenang (hidup tanpa masalah), tapi pada kenyataannya, sebebas apapun hidup yang kita ingin (bahkan ketika kita, lagi dan lagi tergelincir dalam lubang keburukan), kita pasti akan merindukan/ membutuhkan nasehat dari orang lain. Kita rindu untuk bertaubat dan kembali padaNya.
Bumi ini, Allah nggak takdirin manusia itu baik semuanya, atau manusia semuanya buruk. Tapi Allah ciptain, ada orang yang baik dan ada yang buruk. Tidak lain adalah untuk saling menasehati dan bergandengan tangan meraih ampunan Allah. Coba kalau di bumi ini nggak ada para Nabi, nggak ada para wali, nggak ada Ulama, orang sholeh, bahkan nggak ada orang baik satupun. Apa jadinya bumi kita? Gelap, suram, dan lambat laun hancur karena sebab perbuatan kita (wal'iyadzubillah). Lalu apa jadinya diri kita? Maka, Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana mengatur kehidupan di bumi sedemikian rupa dan begitu indahnya.. Dihiasinya dengan para Nabi, para Ulama yang merupakan permatanya bumi agar jika kita 'tersesat', ada yang menunjukkan jalan dan 'menarik' kita agar kembali padaNya.
Makna ke-2: Husnudzon Bi 3ibadillah
Ada juga tipe orang yang nampaknya selalu diliputi oleh keburukan dan kemaksiatan (secara dzohirnya). Ia nampak senang hidup bebas tanpa aturan dan nyaman dalam kemaksiatan terang-terangannya. Namun, jika kita menelisik di dalam hati kecilnya, akan kita temui hatta walau secercah cahaya. Pada kenyataannya orang tersebut pun pasti memiliki sisi baik dan pasti ia juga punya perasaan rindu dengan hal-hal baik/ nasehat baik. Ibarat bumi yang tidak mungkin gelap seluruhnya. Apakah itu artinya dia pure seorang pelaku pendosa dan tidak memiliki satupun pahala? Tidak tentunya. Orang itu juga nggak mungkin buruk sepenuhnya.
Maha Baiknya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati. Untuk itu, kita harus selalu husnudzon (berprasangka baik) pada siapapun, barangkali justru mereka punya ibadah rahasia yang hanya Allah dan dia yang tau; siapa tau doanya lebih didengar dan akan langsung dikabulkan Allah dibandingkan diri kita yang jauh lebih berdosa; barangkali dengan sekali taubat, ia menjadi kekasih Allah (waliyullah); barangkali justru ia punya kedudukan khusus di sisi Allah dan Allah mencintainya, yang dengannya, Allah sangat mungkin mentakdirkan dia bertaubat dan wafat husnul khotimah di akhir kehidupannya nanti, sedangkan kita nggak punya amalan apapun dan nggak ada jaminan akan selamat di akhirat.. :(
Bicara tentang husnudzon, kemarin eln sempat chat dengan salah satu teman, kak Ita. Saat itu Beliau cerita kalau kita memang nggak bisa mengatakan bahwa orang-orang yang dzohirnya mungkin nggak lagi terlihat istiqomah hadir di majelis bahwa mereka sudah turun imannya, dll. Bisa jadi justru mereka nggak hadir majelis karena sedang mengamalkan ilmu-ilmu yang telah mereka dapatkan, atau ia nggak hadir karena ternyata mereka di rumah dan bantu orang tuanya, yang meski pada kondisi demikian, ia nggak pernah lupa berniat hadir di majelis (sehingga dengannya Allah catat ia sebagai orang-orang yang hadir di majelis tersebut), dll.
Jadi, masyaAllah banget. Bener-bener kita nggak akan bisa menilai hati/ niat orang lain. Kita harus selalu husnudzon kepada siapapun, tak terkecuali. Itu lah, karena tujuan kita bukan lagi surga atau neraka, melainkan memang kita diciptakan di dunia ini untuk saling berbagi, saling menyayangi. Kalau demikian, nggak akan ada suudzon (prasangka buruk) di antara kita..
At last. Eln sertakan satu kalam dari salah satu guru kami di PMM, Abah KH Yahya Al Mutamakkin.
"Seburuk apapun seseorang, jangan pernah kita meremehkannya. Karena kita tidak tahu bagaimana keadaan kita di akhir (hayat/ kehidupan kita) nanti."
Allahu a3lam. Doain eln yaa teman-teman.. <3
Oh iya, jika ada yang berkenan berbagi dan menuliskan makna puisi ini versi kalian sendiri, silakan, dengan senang hati yaa. Boleh tulis di kolom komentar, dan bisa disetting jadi anonim juga lhoo. ^_^)/

Komentar
Posting Komentar