Kehidupan dan Rasa Syukur

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aalih washohbih.

     Salah satu guru kami, Ustadzah Alina Al Munawwar pernah menyampaikan bahwa kehidupan kita di dunia ini, setiap harinya itu kita sedang 'irtiqo' alias seakan-akan kita sedang 'menaiki satu persatu anak tangga'.. Ibaratnya seorang murid yang juga diwajibkan kepadanya ujian-ujian untuk bisa naik kelas, maka Allah juga beri kita ujian di dalam kehidupan ini. Apakah kita adalah hamba yang pantas untuk 'naik kelas' atau kita harus 'tinggal kelas'? Sudah ma'ruuf juga di telinga kita kalau tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak akan diuji, sebagaimana yang disebutkan dalam al Qur'an bahwa setiap orang yang hidup pasti akan diuji, baik itu dengan rasa lapar, sakit, kekurangan harta, dan lain sebagainya.. Tapi, setiap hari juga Allah selalu beri kita kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri kita dan mengizinkan kita untuk terus belajar menjadi sebenar-benar hamba di sisiNya.

     Suatu hari, seperti biasa, eln menuliskan sebuah catatan kecil di ponsel. Eln tulis beberapa kalimat di dalamnya. Bisa dibilang, reminder khususnya bagi eln pribadi tentang rasa syukur.. Eln tulis sembari mengingat-ingat kehidupan yang telah eln lalui maupun saat ini sedang eln jalani. Maka dari itu, eln masih harus terus belajar untuk menambah lagi 'porsi' syukur di dalam diri. Hehe.. Oh iya, baru banget dibahas oleh guru kami, Ustadzah Niina Al Munawwar.. Di dalam Al Qur'an, Allah sebutkan mengenai "asy syaakiriin" dan "asy syakuur".. Ternyata, ada perbedaan di antara dua hal ini.
1. Asy Syakirin
Kita mungkin sudah tau artinya, yaitu orang-orang yang beryukur.. Namun, as syakirin ini adalah golongan hamba yang ia hanya bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan saja.. Misalnya, ketika diberi hadiah, ia bersyukur; diberi sehat, ia bersyukur..
2. Asy Syakur
Golongan kedua adalah kelompok orang-orang yang luar biasa. Mereka selalu bersyukur dalam keadaan apapun, dalam keadaan enak ataupun tidak, kondisi pahit ataupun manis, baik itu berupa musibah maupun nikmat. Mereka memiliki mind set bahwa apapun bentuknya, semua yang Allah berikan/ turunkan kepada seorang hamba adalah baik. Dan Allah firmankan di dalam Al Qur'an: wa qaliilun min 'ibadiyas syakur (sangat sedikit dari hambaKu yang bersyukur/ asy syakur). Contoh: listrik di rumahnya padam, hal yang pertama ia ucapkan adalah Alhamdulillah; seseorang diuji dengan suatu penyakit, ia sabar dan bersyukur; seseorang kesandung kerikil, lalu ia spontan mengucap Alhamdulillah, dll. (kurang lebih begini penjelasannya)

     Maka, semoga Allah jadikan kita sebagai hambaNya yang pandai bersyukur atas segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita, juga Allah karuniakan pada kita nashib yang baik.. aamiin yaAllah.. fii khair wa luthf wa 'afiyah. Berikut ini catatan kecil yang saya tulis pada 23 Februari 2022.

Pekerjaanmu yang kamu rasa melelahkan itu, profesimu yang menurutmu bergaji kecil  itu impian orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan..
Kesehatanmu adalah impian orang-orang yang sedang Allah uji dengan rasa sakit..
Orang tuamu yang luar biasa itu juga impian orang-orang yang sudah tak bisa melihat orang tuanya lagi.
Kakak dan adikmu yang seperti itu adalah impian dari orang yang tidak memiliki kakak/ adik.
Anak-anakmu yang kau anggap begini dan begitu, juga impian orang yang tidak/ belum dikaruniai seorang anak pun.
Senyum kecil yang tercermin dari wajahmu adalah impian orang-orang yang sedang merasa sedih..
Rumahmu, yang kau kira sederhana itu, impian orang yang tidak memiliki rumah untuk ia tinggali.
Kendaraanmu, mobil motormu yang kamu kira kecil itu impian orang-orang yang bahkan tidak memiliki kendaraan..
Makananmu yang kamu buang-buang adalah makanan yang diinginkan orang yang lapar dan tidak memiliki makanan..
Teman baikmu yang ini dan itu adalah impian orang yang kesepian (tidak memiliki teman)..
Pasangan (halal) mu yang seperti ini dan itu adalah impian orang yang belum  memiliki pasangan..
Setiap dari kita memiliki ujian yang berbeda.. Maka lihatlah segala sesuatunya dari sisi positif lain yang ada..

Akhir kalam, eln sertakan untaian kata dari guru kami pula..

"Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur.. Namun rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.."
- Ustadzah Niina Al Munawwar

Allahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menuntut di Akhirat atau Memaafkan? (Edisi HBH 2025)

Cerita Random: Nostalgia Momen Lebaran

Berniat di Bulan Ramadhan